Sepenggal Harapan untuk Indonesia dengan “Ibu Kota Baru”

Sepenggal Harapan untuk Indonesia dengan “Ibu Kota Baru”

sumber : https://www.liputan6.com

Gagasan “Ibu Kota Baru” sejatinya bukan merupakan hal baru  bahkan gagasan ini telah di canangkan sejak jaman presiden pertama Indonesia ir.Soekarno. Kemudian gagasan tersebut hadir dengan wujud yang semakin nyata setelah dibahas di tingkat rapat kabinet terbatas pada Senin (29/04). Dari tiga alternatif yang ditawarkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, Presiden memilih alternatif ketiga yaitu memindahkan Ibu Kota ke luar Jawa.
Carut-marutnya permasalahan yang mendera ibukota  mulai dari penurunan air muka tanah, kekurangan air bersih dan keterbatasan lahan hingga kerugian ekonomi akibat kemacetan dan tidak efisiennya penggunaan bahan bakar yang mencapai Rp 65 triliun di 2017 tersebut tentu kita dapat menjadi alasan urgen bagi bangsa Indonesia untuk memiliki “ibu kota Baru”. Bahkan dalam laporan Oxford Economics berjudul Global Cities 2018  dikutip di Katadata.co.id  menyebut Jakarta akan menjadi kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia pada 2035, yakni 38 juta jiwa. Kondisi kota Jakarta yang semakin sesak ini kemudian melahirkan statement  “Jakarta tak lagi cocok sebagai ibu kota Indonesia”.
Menengok kembali keadaan bangsa kita secara lebih menyeluruh mulai dari permasalahan pengangguran, kemiskinan, dan ketersedian energi di seluruh penjuru negeri yang seakan menjadi permasalahan dari generasi ke generasi. Minggu, 4 Agustus kemarin masyarakat ibu kota “Heboh” akibat  pemadaman listrik yang berlangsung hampir 8 jam, hingga memnyebabkan berbagai pihak saling tunjuk meminta pertanggung jawaban. Namun,  apa kabar? Bagi mereka yang daerahnya hanya menikmati listrik saat malam hari atau bahkan belum terjangkau sama sekali. Dibandingkan memikirkan pemindahan ibukota yang tentunya akan menghabiskan anggaran tidak sedikit tentu permasalahan universal bangsa seperti itulah yang sejatinya lebih bijak untuk difikirkan secara lebih mendalam oleh para pemegang tampuk pemerintahan.
Ketika ditanya mengenai harapan apa? Yang kita titipkan jika pemindahan ibu kota telah terlaksana, sebagai orang awam mungkin kita akan menjawab “Tidak Ada”. Seperti halnya pergantian tampuk kepala negara setiap tahunnya yang dampaknya tak terasa langsung bagi peningkatan taraf  kehidupan masyarakat. Namun,  jika kita berbicara sebagai generasi muda bangsa yang di tangannyalah terletak masa depan suatu negara. Maka, tentu kita harus bersikap kritis terhadap berbagai kebijakan yang akan  di tetapkan di negara kita. Jika pusat pemerintahan dan ibu kota negara benar-benar dipindahkan maka harapannya hal tersebut mampu membawa angin segar bagi pemerataan pembangunan di seluruh penjuru negeri. Tentunya hal ini penting karena jika pemerataan kesejahteraan penduduk dan semangat pembangunan perekonomian pedesaan tetap tidak terwujud.  Maka dimanapun ibu kota negara kita di pindahkan,  kepadatan penduduk  akan tetap menghantui. Hal ini tak dapat dinafikan ketika minsdset masyarakat tentang kota besar merupakan lahan basah bagi para pencari kerjaan tetap bercokol, selanjutnya tinggal menungu waktu “ibu kota baru” berubah menjadi magnet urbanisasi besar-besaran bagi masyarakat.
Pembangunan pedesaan baik dari segi sarana dan sumber daya manusianya kemudian menjadi sangat penting. mengingat, desa merupakan tempat yang potensial untuk dikembangkan., baik dari segi sumber daya alam yang melimpah serta adat istiadat yang unik. Jika kesemuanya dikemas dengan baik pasti  akan membawa perbaikan kesejahteraan di berbagai sektor  kehidupan masyarakat. Selanjunya pemindahan ibu kota juga diharapkan tidak merusak ekosistem lingkungan di daerah tujuannya, penataan kota yang ramah lingkungan penting untuk menciptakan lingkungan tempat tinggal yang sehat bagi mereka yang bermukim di dalamnya, terutama bagi penduduk asli setempat.
Terakhir, pemindahan ibu kota semoga menjadikan para pemegang pemerintahan lebih mendaerah sehingga mampu melairkan kebijakan-kebijakan yang lebih tepat sasaran bagi kemajuan derah. Secara pribadi penulis sebagai masyarakat luar pulau Jawa sangat merasakan bagaimana kesenjangan pembangunan antara kota-kota yang berada di pulau jawa dengan non pulau Jawa baik dari segi sarana dan prasarana umum maupun kualitas pendidikan. Semoga kedepannya tak ada lagi istilah “Kan dia anak kota!” yang keluar dari bibir-bibir generasi muda daerah karena sudah bisa merasakan fasilitas yang sama dengan “Orang-orang kota”.
Malang, 9 agustus 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemuda Sadar Kebudayaan Sebagai Tonggak Peradaban Bangsa

Melalui Pemindahan Ibu Kota, Mari Wujudkan Ibu Kota Baru Yang Sehat!!!