Menyingkap Konsep ajaran dan ketaatan Tarekat As-Sadah Al-Ba'Alawi


Tarekat Alawiyyah atau Tarekat As-Sadah Al-Ba'Alawi (bahasa Arabطريقة السادة آل باعلوي‎ Thariqah As-Sadah Al-Ba'Alawi) adalah suatu tarekat sufi Islam Sunni yang terkenal, yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Ali Ba'alawi, bergelar Al-Faqih Al-Muqaddam (lahir di TarimYaman, 574 H/k. 1178 M, dan wafat 653 H/k. 1256 M). Tarekat ini kemudian semakin berkembang dengan pesat di tangan Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Penyebarannya yang terbesar adalah di Yaman, selain itu juga tersebar di Indonesia, Malaysia, Singapura, kenya, Tanzania, India dan Uni Emirat Arab yang merupakan pula wilayah diaspora bangsa arab Hadramaut.
Perkembangan tarekat Alawiyah bisa dibilang cukup pesat. Di Indonesia sendiri, pengikut tarekat ini sangat besar. Salah satu faktor penopang eksistensi tarekat Alawiyah di Indonesia adalah keberadaan komunitas keturunan Arab yang tersebar diberbagai provinsinya. Faktor lain yang menyebabkan tarekat ini mudah diterima oleh masyarakat, karena ajarannya yang bercorak Sunnī dan beraliran tasawuf Ghazālīyah yang lazim digolongkan dengan tasawuf akhlāqī. Selain itu, beberapa ajaran penting dianggap cocok bagi masyarakat kontemporer, yaitu konsep tentang ilmu dan amal.
Secara garis besar ajaran tarekat alawiyah itu adalah sebagai berikut: (1) Menjaga waktu-waktu yang diberikan Allah dan memanfaatkan waktu tersebut untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. (2) Selalu terikat dan hadir dalam majlis-majlis ilmu dan majlis yang bersifat dapat mengingatkan diri kepada Allah. (3) Berakhlak dengan adab-adab yang baik, menjauhi ketenaran, meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, dan menghilangkan semua atribut kecuali atribut kebaikan. (4) Membiasakan diri dalam membaca zikir terutama zikir-zikir Nabawiyyah sesuai dengan batas kemampuannya, seperti amalan-amalan zikir yang disusun oleh Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad. (5) Ziarah kepada para ulama dan auliya baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, selalu ingin bermaksud menghadiri perkumpulan-perkumpulan yang penuh dengan zikir khususnya yang mengandung unsur mengingatkan diri kepada Allah, dan menghadirinya dengan penuh rasa husnudz dzon (berbaik sangka), dengan syarat bahwa perkumpulan-perkumpulan tersebut bebas dari perbuatan-perbuatan mungkar yang dipandang oleh agama.
Jika ditelisik lebih mendalam, pada dasarnya ajaran Tarekat Alawiyah meliputi seluruh aspek kehidupan, baik yang bersifat pengetahuan, sikap, maupun perilaku. Beberapa ajaran terpenting dari tarekat ini adalah konsep ketaatan, dan zikir. Bentuk ketaatan batin  kepada Allah diantaranya adalah zuhud, sabar, syukur, khlas dan jujur,tawakkal, mahabbah dan tingkat tertingginya ialah ridha’. Zuhud dimakanai sebagai perasaan atau sikap selalu merasa butuh kepada Allah, menyerahkan segala urusan kepada Allah, merasa karena Allah, senantiasa mendapatkan pemberian dari Allah. Selain itu, orang yang zuhud senantiasa istikamah menjalankan syariat Allah, hatinya hadir dalam dimensi ketuhanan, dan dapat menyaksikan hakikat kebenaran. Para pengikut tarekat Alawiyah berkeyakinan bahwa satu rakaat salatnya orang zuhud itu lebih baik daripada seribu rakaatnya orang yang tidak zuhud. Selanjutnya ialah sabar, “sabar bersama Allah”itu meliputi: ‘alā tā‘at Allah li h}ukmih, fī tā‘at Allah bi idhnih, ba‘d tā‘at Allah bi mashī’atih (menaati hukum Allah, menaati berada di jalan yang diridai Allah, dan menaati apa yang ditentukan Allah). Sabar bersama Allah itu bagi para pengikut tarekat Alawiyah dipandang sebagai perbendaharaan surga, yang berisi s}alawāt min rabbihim, wa rah}mah, dan merupakan fasilitas bagi orang-orang yang mendapat petunjuk. Syukur kepada Allah dalam tarekat Alawiyah meliputi; syukur atas nikmat, syukur atas ketentuan Allah, syukur atas ketaatan kepada Allah, syukur atas ciptaan Allah. Bersyukur dalam konteks ini adalah memahami hakikat syukur yang sebenarnya, yakni terbukanya rahasia kemurahan dan kedermawanan Allah, baik di waktu senang maupun tatkala susah. Dengan memahami itu semua, maka para sālik diharapkan memiliki sifat sederhana, efisien dan efektif dalam berperilaku hidup dan kehidupan di bumi ini, sehingga bisa meneladani perilaku para nabi dan orang-orang saleh yang diberi nikmat oleh Allah.
Bentuk ketaatan batin kepada Allah lainnya ialah ikhlas dan jujur. Dalam hal ini sifat “Ikhlas dan jujur” hendaknya diterapkan dalam  segala aspek diantaranya tauhid kepada Allah, niat, dan amaliah. Jika semua sifat dan sikap di atas dapat ditanamkan dalam diri seorang sālik, maka ia akan memperoleh rahasia wasīlah menuju Allah, sebab Allah akan mengajarkan ilmu yang tidak dipelajarinya, membukakan pintu untuk menghilangkan kesulitan dan mengangkat hijāb yang menutupinya, sebagai ungkapan Ali Umar Toyib: Man akhlas}a li Allah arba‘īn yawman a‘t}ā’a Allah sirrah (barangsiapa ikhlas karena Allah selama 40 hari, maka Allah akan memberikan rahasia-Nya), yaitu bertambahnya hakikat cahaya hidayah, diberikan kekayaan tanpa sebab yang tidak diketahui, dan diantarkan ke surga (kebahagiaan) dunia maupun surga akhirat. Selanjutya adalah mahabbah (cinta). Cinta yang dimaksud dalam konteks ini adalah cinta kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan, cinta kepada Rasul atas segala petunjuk dan bimbingannya, cinta kepada agama atas segala tuntunan dan tarekatnya, cinta kepada orang-orang saleh atas segala peranan dan peninggalan tradisinya. Ali Umar Toyib mengatakan, Man ahabba shay’an akthar min dhikrih (barangsiapa mencintai sesuatu, maka ia akan banyak mengingat dan menyebutnya).
Sikap batin yang terakhir ialah ridha Rida yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah menerima dengan penuh kerelaan bahwa Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, Nabi Muhammad sebagi nabi dan rasul, al-Qur’ān sebagai imam, dan kaum Muslimin sebagai saudara. Ketika seseorang telah menerima Allah sebagai tuhannya, maka ia harus bersabar atas segaa ujian yang ditimpakan kepadanya, bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, senantiasa berbaik sangka dan menerima sepenuhnya atas segala yang terjadi dalam hidup sebagai pemberian terbaik dari Allah. Shaykh ‘Abd al-S{amad al-Falimbanī menyatakan bahwa untuk dapat mencapai maqām rida, seorang sālik harus memperoleh hakikat cahaya pandangan batin (nūr al-basīrah), dan disebut juga dengan ‘ilm al-yaqīn. Jika seorang sālik memperoleh hal tersebut, maka itu sebagai tanda hidup selamat, sejahtera dan bahagia, dan biasa karena ilmunya cukup, ibadahnya berkualitas, keyakinannya kokoh, dan tauhidnya mantap, lahirnya istikamah, dan batinnya bersandar kepada Allah. Salah satu strategi agar seorang sālik senantiasa istikamah dan bersandar kepada Allah dalam tarekat Alawiyah adalah dengan senantiasa mengingat kematian di dalam jiwanya (dhikr al-mawt fī alnafs.
 Dalam tarekat Alawiyah, tingkatan orang yang bertarekat itu dibedakan menjadi tiga macam, yaitu orang bertobat dari dosa (al-tā’ib ‘an al-dhunūb), orang yang sedang berjalan menuju Allah (al-sālik ilā Allah), dan orang yang makrifat kepada Allah (al-‘ārif bi Allah). Bagi para pengikut tarekat Alawiyah seorang sālik. harus menempuh tiga macam proses kategori tersebut agar memperoleh hakikat cahaya pandangan batin, sehingga dapat terbebas dari kebimbangan dan mantap dalam bahtera keesaan Allah. Dengan demikian, Allah akan senantiasa menganugerahkan kepadanya perlindungan yang langsung dirasakan, kelezatan dalam berzikir dan manisnya kehidupan terus ia rasakan semakin bertambah dari waktu ke waktu (tawallā fī al-qalb ladhdhat al-dhikr, anīs al-murīd

Sumber
-          Munir. 2018. Ajaran Tarekat Alawiyah Palembang Dan Urgensinya Dalam Konteks Kehidupan  Kontemporer. Jurnal Tasawuf Dan Pemikiran Islam. 8. 1-30. (online : jurnalfuf. Uinsby.ac.id  diakses tanggal 7 mei 2020 jam 11.00 WITA)
-          https://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat_Alawiyyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemuda Sadar Kebudayaan Sebagai Tonggak Peradaban Bangsa

Melalui Pemindahan Ibu Kota, Mari Wujudkan Ibu Kota Baru Yang Sehat!!!

Sepenggal Harapan untuk Indonesia dengan “Ibu Kota Baru”