Pemuda Sadar Kebudayaan Sebagai Tonggak Peradaban Bangsa


Pemuda Sadar Kebudayaan Sebagai Tonggak Peradaban Bangsa
Oleh : Puspitasari
Kemajuan teknologi informasi telah menciptakan sistem masyarakat global atau yang akrab disebut dengan istilah Global village.  kemajuan teknologi juga mengantarkan kita pada kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai tempat yang tidak terbatas pada jarak dan ruang. Kini informasi dari suatu negara tidak lagi menjadi milik pribadi negara tersebut melainkan telah menjadi konsumsi dunia. Selanjutnya tidak menutup kemungkinan fenomena ini juga terjadi pada kebudayaan suatu bangsa. kedepannya dikhawatirkan kebudayaan suatu bangsa dapat ikut menjadi kebudayaan dunia. Hal ini tentu dapat berdampak negatif bagi bangsa karena berpotensi menjadi bangsa pengadobsi atau penjiplak kebudayaan asing dan malah melupakan kebudayaan bangsa sendiri. Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya hal tersebut, perlu adanya perhatian yang serius bagi setiap komponen masyarakat terutama para pemudanya. Pemuda kemudian menjadi unsur yang sejatinya akan berperan penting dalam mempertahankan eksistensi kebudayaan suatu bangsa.
Kekayaan bahasa daerah merupakan salah satu kebudayaan bangsa yang menjadi identitas bangsa Indonesia dan tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Kekayaan bahasa daerah sekaligus juga menjadi jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.  Namun sayang, kini dengan mudahnya kita menemukan para pemuda-pemudi yang tidak lagi menguasai bahasa daerahnya bahkan beranggapan berbicara menggunakan bahasa daerah merupakan hal yang “kolot” dan memalukan.  Hal tersebut merupakan salah satu dari gejala-gejala pergeseran kebudayaan yang diawali dengan lunturnya kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerahnya sendiri. Situasi ini sebenarnya diawali oleh para orang tua yang tidak menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu bagi anak-anaknya. Kemudian situasi ini diperparah oleh adanya persepsi dimasyarakat bahwa bahasa daerah merupakan hal yang kampungan. Maka jangan heran jika para generasi muda lebih tertarik dan merasa bangga saat mampu berkomunikasi dengan bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman, Mandarin dan bahasa dari negara-negara maju lainnya.
Mungkin kebanyakan para pembaca bertanya-tanya, kenapa selanjutnya pemuda yang memegang tonggak tangung jawab terbesar? Pertanyaan ini dapat dengan mudah dijawab. Pada  bagian awal tulisan ini telah dijelaskan bahwa kemudahan dalam mengakses informasi merupakan penyebab utama terjadinya pertukaran kebudayaan. Sementara fakta di lapangan menunjukkan bahwa generasi muda khususnya pada usia remaja menjadi aktor paling aktif dalam mengakses berbagai informasi yang tersedia di media internet. Selanjutnya dikutip dari www.kompasiana.com diperkirakan Indonesia akan mengalami bonus demografi terbesar pada tahun 2045 dimana jumlah penduduk usia produktif(15-64 tahun) di indonesia mencapai 52 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan data tersebut dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika dikemudian hari pemegang posisi penting dalam roda pemerintahan merupakan mereka yang tidak mengetahui budaya bangsanya.
Sebagai kesimpulan dari tulisan ini penulis ingin berpesan hendaknya mari kita kembali menggiatkan semangat untuk mempelajari kebudayaan bangsa sendiri yang dapat dimulai dari mempelajari bahasa daerah. Jika bukan kita yang bangga dengan budaya bangsa sendiri, lalu siapa lagi?. Jangan menunggu salah satu kebudayaan kita diklaim oleh bangsa lain baru mau melangkah membuat perubahan. tidak ada salahnya mempelajari budaya bangsa lain  tetapi jangan sampai mengantarkan kita untuk melupakan budaya sendiri. Dalam hal ini peran orang tua dalam mengarahkan dan membentuk pola fikir generasi muda juga tidak boleh diabaikan. Terakhir penulis berpesan “Mari wujudkan generasi muda pembangun bangsa” dengan kontribusi seluruh lapisan masyarakat.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melalui Pemindahan Ibu Kota, Mari Wujudkan Ibu Kota Baru Yang Sehat!!!

Sepenggal Harapan untuk Indonesia dengan “Ibu Kota Baru”